
Berita Media
Kiprah PKS
Taujih
Kabar PKS DPRa Benda Baru
Kiprah Bidang Perempuan Benda Baru
Kiprah Bidang Kaderisasi
Kiprah Bidang Kepanduan dan Olah Raga
Bayanat dan Taklimat
Dunia Nasyid
Dunia Islam
Bayanat PilPres 2009
Jumat, 29 Mei 2009
Ta'limat : SERUAN MEMULIAKAN GURU
Selasa, 25 November 2008
Seruan Memuliakan Guru
PK-Sejahtera Online: Dalam rangka Hari Guru Nasional 2008, diinstruksikan kepada seluruh kader Partai Keadilan Sejahtera untuk melaksanakan Gerakan Nasional PKS Memuliakan Guru dalam rentang waktu Senin-Ahad, 24-30 Nopember 2008. Isi gerakan nasional tersebut adalah :
- Memuliakan guru melalui gerakan silaturahmi seluruh kader untuk mengunjungi guru ke rumah atau kantornya
- Memuliakan guru melalui gerakan menyemangati profesi guru dengan cara pemasangan spanduk syair penghormatan pada profesi guru yang dilakukan oleh struktur DPD/DPC, mis: (a) Kami bangga menjadi Guru, (b) Guru, Pahlawan sejati pendidik anak negeri, (c) Bagi Kami, Guru adalah PAHLAWAN SEJATI
- Memuliakan guru melalui gerakan memberikan kado/hadiah kepada guru. Atau memberikan Sembako kepada keluarga Guru yang tergolong mustahik.
- Memuliakan guru melalui gerakan mobilisasi doa untuk para guru agar mereka tetap eksis memberikan kontribusi pada peningkatan mutu pendidikan anak bangsa.
- Memuliakan guru melalui gerakan bakti sosial: memperbaiki, membersihkan atau melengkapi rumah Guru
- Memuliakan guru melalui dukungan dan advokasi atas perjuangan guru untuk memperoleh peningkatan martabat: kualifikasi, kompetensi, dan kesejahteraan.
- Memuliakan guru melalui pemberian penghargaan kepada guru yang berdedikasi, berprestasi pada tingkat DPW atau DPD.
PKS Ajak Memuliakan Guru
PKS Ajak Memuliakan Guru
Selanjutnya, dalam rangka menyambut Hari Guru Nasional (25/11), Partai Keadilan Sejahtera menyerukan kepada seluruh kader, dan menghimbau kepada seluruh masyarakat untuk bersama-sama MEMULIAKAN GURU, melalui berbagai bentuk sikap dan langkah nyata. ”Selamat Hari Guru, Jayalah Guru Indonesia”PK-Sejahtera Online : Presiden PKS, Tifatul Sembiring mengatakan bahwa PKS memiliki sikap yang jelas terhadap Guru dalam kaitannya dengan memajukan dan mengembangkan pendidikan nasional.
”Guru sebagai pilar utama dalam pendidikan dan pembangunan bangsa. Posisi guru dan pendidik harus dihargai setara bahkan lebih tinggi dari profesi lainnya. Negara harus menjamin kesejahteraan minimal mereka, melindungi hak-hak mereka, serta mengembangkan kemampuan profesi mereka.” Ujar Tifatul dalam konferensi pers launching program PKS Memulyakan Guru di kantor DPP PKS hari ini (25/11). Program ini dibuat dalam rangka peringatan hari guru yang jatuh hari ini.
Pemerintah dan DPR telah mengeluarkan kebijakan yang terkait dengan peningkatan martabat dan mutu guru. UU No 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menetapkan permasalahan Guru ini dalam pasal 39 sampai pasal 44. Sementara dalam Undang-Undang Guru dan Dosen No. 14 tahun 2005 bab IV pasal 8 disebutkan bahwa “guru wajib memiliki kualifikasi akademik, kompetensi, sertifikasi pendidik, sehat jasmani dan rohani, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional”.

Namun dalam tataran Implementasi, nampak masih banyak hal yang harus dibenahi. Saat ini, Guru di negeri kita masih menghadapi persoalan yang rumit, diantaranya adalah persoalan Kualifikasi, Kompetensi dan Kesejahteraan yang belum ”menjanjikan” profesi guru sebagai profesi yang menarik.

Di samping permasalahan di atas, permasalahan kekinian yang juga membutuhkan perhatian adalah perilaku tindak kekerasan dan tindakan pelecehen seksual yang dilakukan oleh segelintir oknum guru. Tindakan-tindakan tersebut menjadi noda dan nista bagi kalangan profesi guru. Kejadian akhir-akhir ini di beberapa tempat di tanah air menjadi ’tamparan keras’ para komunitas guru khususnya dan kita semua para pendidik dan aktivis pendidikan. Menurut Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), sepanjang enam bulan pertama 2008, kekerasan guru terhadap anak meningkat 39 persen dibanding semester pertama 2007.
Selanjutnya, dalam rangka menyambut Hari Guru Nasional (25/11), Partai Keadilan Sejahtera menyerukan kepada seluruh kader, dan menghimbau kepada seluruh masyarakat untuk bersama-sama MEMULIAKAN GURU, melalui berbagai bentuk sikap dan langkah nyata. ”Selamat Hari Guru, Jayalah Guru Indonesia”
PKS Menjawab Fitnah
Kamis, 30 Oktober 2008
TETAP PARTAI DA’WAH, MESKI PKS TERUS DIFITNAH
Bayan Dewan Syari’ah Pusat Partai Keadilan Sejahtera
Bismillahirrahmanirrahim
Alhamdulillahi rabbil alamin wasshalatu wassalamu ‘ala sayyidil mursalin, nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in. Wa ba’du..
Fenomena partai da’wah PKS dalam blantika perpolitikan nasional telah mengundang banyak hal. Ada ketercengangan, ada pertanyaan, ada pula kekhawatiran bahkan kecurigaan. Menghadapi laju PKS di ranah politik sekaligus ranah da’wah, berbagai pihak melakukan ragam cara. Bertambah banyak yang simpati lalu mendukung, tapi tidak sedikit yang menebar halang rintang dengan langkah politis, bahkan ada yang menebar kedustaan dengan isu keagamaan. Cara yang terakhir ini berulang kali dimunculkan barbarengan dengan perjuangan politik PKS melalui pemilu legislatif dan pilkada.
Kedustaan (iftira) dengan isu keagamaan itu berupa sebutan atau stempel yang sembarangan dan sama sekali mengabaikan perintah Islam untuk klarifikasi (tabayyun) baik dengan meruju dokumen-dokumen PKS maupun dengan menanyakan secara langsung kepada pihak yang berkompeten di PKS. Kedustaan yang terbaru dibuat oleh yang menamakan dirinya Tim Taushiyah dan Maklumat pada hari Ahad 22 Sya’ban 1429 H/24 Agustus 2008 di salah satu Pesantren. Kami tidak sampai hati menuliskan sembilan nama Kiyai sebagai tim perumus yang sejatinya mukarramun. Inti dari taushiyah tersebut meminta masyarakat khususnya kalangan tertentu dari kaum muslimin, ’agar mewaspadai gerakan Wahabisme yang diusung oleh Partai Keadilan Sejahtera (PKS), yang bertujuan menghilangkan syari’at dan tradisi Yasinan, Tahlilan, Qunut dan Perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW, serta tradisi lainnya yang suka dilakukan Ahlussunnah Waljama’ah.
Sebagai partai da’wah yang berfungsi memberikan pencerahan kepada masyarakat luas, PKS harus menjelaskan siapa ia sebenarnya. Sesuai AD-ART partai, lembaga yang berkompeten menjelaskan pandangan dan sikap keagamaan PKS adalah Dewan Syari’ah. Sedangkan pandangan atau sikap keagamaan kader PKS secara individual tidak mencerminkan pandangan dan sikap partai. Berikut ini pandangan resmi Dewan Syari’ah Pusat PKS tentang beberapa masalah keagamaan yang telah dipolitisir.
1. PKS dan Ahlussunnah Wal Jama’ah
Sebagai partai dakwah PKS berpegang teguh kepada aqidah ahlussunnah waljamaah dengan sumber rujukan utama sebagaimana termaktub dalam Ittijah Fiqih Dewan syari’ah PKS, berupa Mashadir Asasiyah (sumber hukum primer) yang disepakati oleh Jumhur Ulama Ahlu Sunnah wal Jama’ah, yaitu al-Qur’an, Sunnah yang suci, ijma’ dan qiyas.
2. PKS dan ’Wahabisme’
Tidak ada hubungan antara PKS dengan ’Wahabiyah’, yaitu gerakan yang dipimpin Syekh Muhammad bin Abdul Wahab di negeri Hijaz yang bertujuan untuk memur nikan ’aqidah dari Takhayul, Bid’ah dan Khurafat (TBC), berkerja sama dengan Malik Abdul Aziz dan menggunakan berbagai cara dari yang sifatnya halus sampai yang radikal. Jelas tidak ada hubungan historis karena PKS lahir pasca reformasi 1998. Tidak ada hubungan struktural organisatoris antara PKS dengan organisasi keagamaan di Saudi Arabia. Bahwa di antara pimpinan PKS pernah studi di Saudi Arabia, hal yang sama berlaku juga pada ormas Islam yang lain. Bahkan ada yang pendirinya pernah mukim di sana. Tapi tidak lantas ormas-ormas tersebut boleh dituduh sebagai pengusung ’Wahabiyah’.
3. Kolektivitas dan keberagaman di PKS
Sebagai partai da’wah yang berprinsip kejama’ahan, maka sifat kolektifitas menjadi ciri PKS yang mewadahi keberagaman, baik dalam rekruting kader maupun pandangan keagamaan dan politiknya.
- Ketua Majelis Syura PKS KH. Hilmi Aminuddin alumni Universitas Islam Madinah, dekat dengan kalangan Persis.
- Duta besar RI di Saudi Arabia Habib DR. Salim Segaf Al Jufri adalah seorang habib cucu pendiri Al Khairat dan salah seorang pendiri Partai Keadilan.
- Beberapa habaib yang lain fungsionaris PKS seperti Habib Abu Bakar Al Habsyi, Habib Nabil Al Musawwa, Habib Fahmi Alaydrus.
- Presiden pertama Partai Keadilan DR. H. Ir. Nurmahmudi Ismail, MSc lulusan Amerika, berlatar belakang pesantren di Kediri yang kental ke NU-annya.
- Presiden kedua Partai Keadilan dan PKS yang kini Ketua MPR RI DR. H. M. Hidayat Nurwahid, MA lulusan Universitas Islam Madinah, berlatar belakang Muhammadiyah.
- Presiden PKS yang sekarang Ir. H. Tifatul Sembiring alumni sekolah tinggi teknik di Indonesia dan kursus manajemen politik di Pakistan punya latar belakang organisasi di PII.
- Ketua MPP-nya Drs. H. Suharna Surapranata, MT lulusan UI dan Jepang berlatar belakang aktivis masjid kampus.
- Ketua Dewan Syari’ah PKS KH. DR. Surahman Hidayat, MA tamatan universitas Al Azhar Mesir yang bermazhab Syafi’i, latar belakangnya NU dan PUI, sebelumnya PII dan HMI.
- Beberapa anggota Dewan Syari’ah Pusat juga berlatar belakang NU seperti KH. DR. Muslih Abdul Karim, MA murid kesayangan KH. Abdullah Faqih, Langitan. H. Bukhari Yusuf, MA, sekretaris DSP, murid kesayangan KH. Noer Ahmad S, ahli Ilmu Falak NU. H. Bakrun Syafi’i, MA alumni Pesantren Al Munawwir, Krapyak, Yogyakarta adalah murid kesayangan KH Ali Ma’shum. H. Amang Syafruddin, Lc, Msi alumnus Pesantren NU Cipasung, Tasikmalaya yang sering dipuji sebagai murid nomor 1.
- Beberapa ulama seperti Prof. DR. KH. Didin Hafidhuddin, MS (ketua Baznas), DR. Ahzami Samiun, MA. (putra dari tokoh NU, KH. Samiun Jazuli), Prof. DR. Ahmad Syathori (alumni pesantren Babakan Ciwaringin dan Buntet), adalah tempat bertanya dan rujukan kader PKS.
4. Furu’iyah di PKS
Da’wah PKS menekankan pada tema-tema besar yang bersifat prinsip (qadhaya ushuliyah). Ini supaya da’wah PKS bersifat mempertemukan mempersatukan (jami’ah-tajmi’iyah) dan tidak menimbulkan perselisihan/perpecahan (tafriqiyah). Ittijah fiqh (orientasi fikih) Dewan Syari’ah PKS mendahulukan fiqh persatuan (i-tilaf) daripada fiqh perbedaan (ikhtilaf). Menggali dan mengambil faidah dari khazanah fiqhiyah yang ada dengan prinsip ”Almuhafazhatu ’alal qadimish shalih wal akhdzu bil jadidil ashlah” mengambil pendapat klasik yang masih cocok dan pendapat baru yang lebih maslahat. Tapi dalam praktik keseharian memperhatikan harmoni dengan mazhab yang banyak dipraktikan yaitu madzhab Syafi’i. Mengedepankan cara kompromi (thariqatul jam’i) atas tarjih, dan menggunakan prinsip keluar dari khilafiah (khuruj ’anil khilaf) sejauh dimungkinkan. Kemudian terhadap perbedaan dalam masalah cabang (furu’) mengedepankan sikap toleran (tasamuh). Prinsip yang dipegang ”NATA’AWANU FIMA ITTAFAQNA ’ALAIHI WA YA’DZURU BA’DHUNA BA’DHAN FIMA IKHTALAFNA FIHI” – Bekerjasama dalam hal-hal yang disepakati dan saling menghormati dalam hal-hal yang diperseli sihkan.
5. Sikap PKS dalam masalah khilafiyah
Berikut ini beberapa masalah khilafiah/furu’iyah yang sering dijadikan alat untuk memfitnah PKS dan pandangan resmi Dewan Syari’ah Pusat PKS tentang itu.
a. Do’a Qunut
Bagaimanapun do’a qunut status hukumnya sunat. Yang disepakati adalah do’a qunut dalam shalat witir, qunut nazilah dalam shalat fardhu yaitu memohon tolak bala dari kaum muslimin dan mendo’akan bencana bagi musuh Islam. Adapun qunut shubuh tetap saja merupakan masalah khilafiyah. Masalah pilihan, paling tinggi posisinya antara rajih dan marjuh, bukan antara sunnah dan bid’ah. Jadi tidak ada bid’ah dalam qunut shalat fajar. Dan mengamalkan yang marjuh bisa menjadi pilihan jika membawa kemaslahatan dalam mu’amalah. Jadi bukan sikap plinplan, tapi cerminan sikap bijak dan cerdas. Secerdas Imam Muhammad bin al Hasan al Syaibani murid Imam Abu Hanifah yang melakukan qunut ketika ziarah ke Mesir dan menjadi imam shalat shubuh. Ini karena beliau menghormati Imam Syafi’i -imam madzhab yang dominan di Mesir. Dan sebijak Imam Syafi’i yang tidak qunut shubuh ketika beliau ziarah ke Imam Muhammad di Baghdad. Dalam pengamalan di
acara-acara PKS kadang qunut shubuh kadang juga tidak, tergantung imamnya. Dan
itu tidak pernah ada masalah.
b. Membaca do’a dan tahlil untuk yang meninggal
Pada dasarnya membaca do’a untuk mayit dianjurkan (sunat). Berkat ikatan ’aqidah
tauhid tidak terputus hubungan sesama muslim dengan yang sudah mati sekalipun. Dalam al Quran ada do’a ”Rabbanagfirlana wa li-ikhwanina alladzina sabaquna bil imani, wala taj’al fi qulubina ghillan lilladzina amanu.. rabbana innaka raufurrahim”. (QS 59: 10). Menghadiahkan bacaan Surah al Fatihah atau lainnya untuk mayit, atau mewaqafkan/menshadaqahkan sesuatu atas nama atau menujukan pahalanya untuk mayit merupakan amal shalih yang diterima, sesuai pendapat jumhur ulama. Istigfar, tasbih, tahmid dan tahlil merupakan bagian dari keseluruhan do’a yang dibaca. Waktu berdo’a untuk mayit tidak harus dibatasi pada waktu atau hari-hari tertentu, dan tidak boleh disyaratkan, sehingga pilihan waktunya lebih luang dan leluasa sesuai kesempatan atau kemampuan.
c. Perayaan maulid Nabi saw
Perayaan memperingati maulid Nabi Muhammad saw menurut sebagian riwayat, digagas oleh Sultan Salahuddin al Ayyubi di Mesir dalam rangka meningkatkan ruhul jihad umat Islam. Sampai hari ini Universitas Al Azhar sendiri mensyi’arkan peringa tan maulid Nabi saw. Bagi kepala pemerintahan seperti Sultan Salahuddin, hal itu merupakan kebijakan yang sesuai syari’ah (siyasah syar’iyah), yang didefinisikan imam Ibnu Uqail sebagai perbuatan yang dilakukan karena lebih maslahat bagi masyarakat dan lebih menghindarkan mereka dari mafsadat, meskipun tidak pernah disabdakan atau dicontohkan oleh Nabi saw. Adapun bagi masyarakat muslim, peringatan maulid Nabi saw pertimbangannya adalah semata-mata kemaslahatan (mashlahah mursalah). Dasar pertimbangan maslahat ini juga yang menyeleksi ragam acara yang dipandang membawa maslahat. Tentu saja dalam konteks ini ada ruang bagi tradisi dan kreasi yang baik, sehingga ada variasi dari tempat ke tempat lain dan dari waktu ke waktu yang lain. Jika dibarengi niat yang lillah, untuk meninggikan Dinullah dan tidak ada sesuatu yang melanggar syari’ah dalam mata acaranya, insya Allah bernilai ’ibadah.
Di lingkungan PKS, biasa diadakan peringatan maulid Nabi saw baik oleh DPP maupun struktur di bawah. Bahkan dianjurkan agar pelaksanaannya bekerjasama dengan masjid, lembaga keagamaan atau masyarakat sekitar. Para kepala pemerintahan kader PKS biasa memprakarsai atau mensponsori. Para da’i atau asatidz kader PKS biasa menjadi penceramah dalam peringatan ini.
d. Yasinan
Disebutkan dalam sebuah riwayat Imam Ahmad bahwa Surah Yasin merupakan qalbunya al Quran. Membacanya merupakan ’ibadah. Disepakati anjuran membacanya di samping orang yang sakit parah. Boleh dibaca untuk pengobatan dengan ruqyah syar’iyah. Boleh membacanya untuk yang sudah meninggal, menurut jumhur ulama. Sejauh ada pendapat yang membuka peluang ’amal, adalah tidak bijak menutupnya bagi siapa yang ingin melakukannya. Waktu membacanya luas, boleh siang apalagi malam dan pada waktu-waktu yang khidmat. Tidak perlu dibatasi pada waktu tertentu. Pertimbangannya adalah kesempatan dan kekhidmatan. Membiasa kan acara membaca al Quran atau memilih surat-surat tertentu, insya Allah merupa kan ’adah shalihah atau tradisi yang baik. Memilih surat tertentu untuk dilazimkan dibaca, bukan karena mensyaratkan atau membatasi, tapi karena lebih menyukainya atau lebih familiar, insya Allah merupakan kebajikan, semoga Allah mempertemukan pembacanya dengan surat yang dicintai.
Secara umum, merupakan kebijakan dalam da’wah PKS untuk menghidupkan sunnah yang telah ditinggalkan (ihyaul sunnah al mahjurah) dan tradisi Islami yang menyemarakkan syi’ar Islam sebagai cerminan ketaqwaan.
Melalui bayan ini kami serukan kepada segenap pencinta kebenaran dengan semangat iman dan keadaban, agar tidak termakan oleh fitnah dan hasutan baik lisan maupun melalui selebaran gelap yang menuduh PKS adalah Wahabi dan bukan Ahlussunnah Wal Jama’ah. ”Berbuat dusta dan menyebarkannya adalah dosa besar” (HR Bukhori).
Hasbunallah wani’mal wakil, wahuwal muwaffiq ila aqwamith thoriq
Jakarta, 21 Syawwal 1429 /21 Oktober 2008
Dewan Syari’ah Pusat
Partai Keadilan Sejahtera
KH. DR. Surahman Hidayat, MA
Ketua
B A Y A N A T
Rabu, 13 Februari 2008
PENDAHULUAN
- Dewan Pimpinan Tingkat Pusat (DPTP) PKS pada rapatnya tanggal 7 Januari 2008, yang dihadiri oleh Ketua Majelis Syura, Ketua Majelis Pertimbangan Pusat, Presiden Partai, Ketua Dewan Syariah Pusat, Sekretaris Jenderal dan Bendahara Umum telah memutuskan bahwa kegiatan Sidang Majelis Syura (MS) ke-9 dan Musyawarah Kerja Nasional (Mukernas) 2008 dilaksanakan di Bali pada 1-3 Pebruari 2008.
- Keputusan pemilihan tempat tersebut dibuat senafas dengan perkembangan pemikiran partai ke arah pemenangan pemilu 2009.
- Penjelasan (bayanat) ini dibuat untuk mempermudah dan menjelaskan konsep acara serta publikasi kegiatan tersebut kepada kader dan simpatisan.
- Alasan pemilihan dikelompokkan kepada kepentingan Internal dan Eksternal.
ALASAN INTERNAL
- Mengokohkan dakwah Islam di Bali dan menegaskan komitmen dakwah kita, bahwa seluruh jengkal tanah air Republik Indonesia adalah teritori yang utuh dari medan dakwah PKS.
- Mengokohkan posisi kader PKS di Provinsi Bali yang berjumlah sekitar 5.775 orang dan kader yang berjuang di daerah-daerah minoritas.
- Mengokohkan posisi minoritas ummat Islam di Bali yang jumlahnya sekitar 323.853 (9%) dari 3.442.600 orang penduduk Pulau Bali.
- Mengokohkan soliditas dan mobilitas PKS serta daya jangkau dakwah kita ke seluruh penjuru tanah air Republik Indonesia.
- Menegaskan pengakuan PKS kepada pluralitas dan keanekaragaman agama, suku dan budaya bangsa Indonesia, dan berupaya menjadikannya sebagai sumber kreativitas kolektiv kita sebagai bangsa.
- Dalam konteks keIndonesiaan, kehadiran PKS di Bali juga merupakan penghargaan kepada minoritas dan komitmen PKS untuk memberikan keadilan bagi semua warga Negara Republik Indonesia tanpa membedakan agama, suku dan golongannya.
- Menegaskan komitmen PKS untuk ikut serta menciptakan perdamaian di seluruh wilayah Republik Indonesia, dan mengakhiri segala bentuk penggunaan kekerasan dan terorisme atas nama agama, mengakhiri konflik antar agama serta mempertahankan Bali sebagai halaman rumah Indonesia yang damai dan tentram.
- Menegaskan komitmen PKS untuk menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Jakarta, 14 Muharram 1429 / 23 Januari 2008
Entri Populer
-
Wasekjen Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Mahfudz Siddiq mengatakan, ada aktor-aktor politik yang mengolah kasus korupsi dana Percepatan P...
-
Sudah lelah kah kau kawan atas perjuangan dakwah ini?? Hhmm mungkin jadwal syuro yang padat itu membuatmu lemah?? Atau tak pernah punya wakt...
-
pksdprabendabaru.blogspot.com — Para pendukung kesebelasan Persija Jakarta meminta Calon Gubernur DKI Jakarta Hidayat Nurwahid membangun se...






